Anak Yatim Anak Yatim Anak Yatim

ADAB TERHADAP ANAK YATIM


Pendahuluan


Allah subhanahu wata’ala menciptakan alam dengan segenap isinya, kemudian mengaturnya adalah dengan kebijak-sanaan, kemurahan, dan kasih sayang-Nya. Maka kewajiban segenap hamba adalah ta’at, bersyukur, bersabar, dan memohon rahmat serta ampunan-Nya


Anak-anak yatim ditaqdirkan oleh Allah subhanahu wata’ala lahir atau tumbuh berkembang tanpa bapak adalah berdasar kebijaksanaan Allah subhanahu wata’ala yang Maha Suci lagi Maha Tinggi. Ketiadaan orang tua bukan berarti kekurangan atau hambatan bagi mereka, akan tetapi terdapat banyak hikmah yang diatur oleh Allah subhanahu wata’ala di antaranya:


1. Sebagai sarana bagi kaum mukminin untuk saling berlomba, tolong-menolong, terutama ber-lomba menolong anak yatim.


2. Sebagai sarana bagi kaum mukminin untuk saling memperhatikan dan peduli terhadap nasib sesama, terutama terhadap anak yatim.


3. Sebagai sarana kaum mukminin untuk menghidupkan sunnah nabi dan menegakkan ajaran Allah subhanahu wata’ala, tentang perhatian terhadap anak yatim.


4. Sebagai sarana kaum mukminin menuntut dirinya memenuhi janji Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, yaitu duduk bersanding dengan beliau bagi siapa yang menjamin anak yatim.


5. Sebagai wahana berkiprah bagi anak yatim itu sendiri di kalangan kaum muslimin yang memperhatikannya, bagai seorang anak kepada bapaknya sendiri.


6. Sebagai bukti bahwa Allah subhanahu wata’ala lah yang Mahakuasa, mengatur, dan yang berhak diibadahi.


7. Sebagai bukti kebenaran iman seorang mukmin dengan memperhatikan anak yatim.


8. Sebagai wahana memperhalus dan memperindah akhlaq kaum mukmin dengan cara bergaul dengan mereka/sebagai benteng kaum mukmin dari api neraka.


ADAB TERHADAB ANAK YATIM


Menunaikan hak-haknya, meliputi:


a. Mencukupi pakaian yang mereka perlukan, memperhatikan pakaian mereka, termasuk biaya loundry serta perbaikan dan waktunya ganti. Juga pakaian untuk bermain, ke sekolah, untuk shalat, untuk berolah raga, pakaian ganti dan pakian apa saja yang mereka perlukan dengan jumlah yang cukup, perawatan, dan kebersihan pakaian mereka.


b. Memberinya tempat tinggal yang melindungi, menaungi dari hujan, terik matahari, maupun binatang-binatang pengganggu. Jadi tempat tinggal yang kita sediakan haruslah kuat, bersih dan sehat, cukup ventilasi, sinar matahari, tidak bocor. Juga wajib menyediakan, merawat dan mengawasi serta meneliti kalau-kalau ada kerusakan dan kekurangan pada bangunan tempat tinggal mereka.


c. Menjamin makanan yang cukup bagi mereka meliputi makan pagi, siang, sore atau malam, yang mencukupi karbohidrat, vitamin, protein dan mineral lainnya. Kita cukupi mereka dengan buah, ikan, susu, madu, sayur dan sebagainya. Secara rutin maupun bergantian.


Alat dan peralatan hidangan makan harus yang bersih dan sehat, jangan dari bahan plastik yang ditengarai mengandung zat yang berbahaya seperti formalin, karatan dan lain-lain. Mencucinya juga harus bersih, jangan sampai menyisakan kotoran maupun obat pencuci yang berbahaya pula. Jauhkan mereka dari makanan kemasan yang mengan-dung bahan berbahaya, seperti zat pewarna, sodium benzoat, alkohol, dan sebagainya sebab dapat berpengaruh sangat buruk pada perkembangan dan kesehatan otak dan tubuh mereka. Seperti permen-permen dan makanan ringan lainnya. Penyajian kepada mereka harus dengan sebaik-baiknya, ikhlas, sabar, lembut penuh perhatian dan kasih sayang.


d. Menjaga, mengembangkan, dan mengembalikan harta mereka


Setelah ditinggal bapaknya banyak di antara mereka yang memiliki harta warisan. Maka wali penggantinya berkewajiban untuk menjaga dan mengembangkannya agar bertambah dengan cara yang halal dan tidak habis dimakan zakat. Wali harus men-jalankan dengan tekun, teliti, jujur penuh amanah, ikhlas serta mengembalikannya kepada mereka ketika sudah dewasa dan diuji coba mampu untuk mengelola hartanya sendiri, jangan sampai harta itu dikurangi. Seperti dipakai untuk selamatan kematian dan sebagainya karena tidak pernah acara seperti ini diperintahkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam maupun dicontohkan oleh para sahabat maupun para imam kaum muslimin, bahkan mereka melarangnya. “Berkumpul di rumah ahli mayit dan membuat makanan setelah penguburan. Kami menganggapnya sebagai niyahah (meratapi).”


(HR. Ahmad 2/204, Ibnu Majah 1612)


Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, dan Mughiroh bin Syu’bah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Mayit itu akan diadzab sebab ratapan keluarga (ahlinya).”(Mutafaqun ‘Alaih)


Itulah generasi awal umat yang paling mulia yang harus kita contoh, jangan sampai kita menyelisihinya, dengan nafsu, adat, pikiran maupun qiyas-qiyas sendiri. Kemudian meneruskan adat orang jahiliyah maupun orang kafir, orang Hindu maupu Budha yang menyelenggarakan pertemuan maupun pesta setelah hari kematian dengan memakan harta anak yatim. Marilah kita sadari, kita bertaubat dari nafsu, pikiran, maupuan adat yang salah, kita kembali kepada petunjuk Allah subhanahu wata’ala, petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam serta petunjuk para sahabat radhiyallahu ‘anhum, Demi keselamatan kita di dunia dan akhirat.


Sekali lagi jangan mengutamakan keselamatan di dunia dengan cara yang batil atau jahil, yaitu mengikuti adat orang kafir, meninggalkan petunjuk para sahabat radhiyallahu ‘anhum generasi salaf (pendahulu) yang shalih. Bertaqwalah kita kepada Allah, sungguh harta yang kita pakai berpesta itu lebih berhak dipakai oleh anak yatim dan mengutamakan serta memuliakan mereka itu lebih dicintai Allah subhanahu wata’ala, sehingga menjadi anak-anak yang shalih dan shalihah yang berdo'a untuk orang tuanya yang telah meninggal. Itu yang jelas bisa bermanfaat bagi orang tua. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallambersabda,


“Jika anak adam mati, maka terputus amalnya kecuali tiga hal; shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak sholeh yang mendo'akannya.” (HR. Imam Muslim)


Jangan diambil sedikit pun harta mereka dengan alasan apa pun. Jangan kita bermaksiat menentang undang-undang syari’at Allah subhanahu wata’ala.


e.Menjaga kesehatan mereka


Selain memperhatikan menu makanan, pakaian, dan tempat tinggal mereka, kita juga harus memperhatikan dan menjaga kesehatan mereka. Sejak lahir tahnik lah dengan lumatan kurma, minumkan ASI pertama dengan memperhatikan kebersihan tubuh mereka. Air minumnya, rambut dan kukunya, gigi, hidung dan telinganya, serta gigi dan jari jemari juga seluruh tubuhnya kita bersihkan dan jaga kesehatannya. Periksakan kesehatan mereka atau Cek Up, dan selalulah meraba atau mengusap rambut dan kepala mereka dengan kasih sayang sehingga kita selalu mengetahui perubahan kondisi kesehatan mereka. Segera tangani atau bawa ke dokter bila ada keluhan atau gejala sakit.


Latihlah mereka makan minum dengan tangan kanan dan secukupnya, tidur berbaring ke sisi kanan sambil berdo'a. Menepati waktu tidur yaitu tengah hari sebentar, malam hari sesudah Isya' dan bangun menjelang shalat subuh.


Menjauhkan mereka dari lingkungan yang kotor dan penyakit menular.


f. Melatih dan membina jasmaninya


Latihlah berolah raga, ajak dan jagalah dalam bermainnya. Ajaklah berjalan-jalan, berlari-larian, berenang, menaiki kendaraan. Perhatikan latihan dan kondisi tubuhnya, juga teman berlatihnya, jangan sampai mendekati tempat, atau teman yang mem-bahayakannya.


g. Mendidik mereka dengan sebaik-baiknya


Penuhi alat dan sarana pendidikan mereka, pilihkan bahan yang bagus seperti kertas, pena, penghapus, dll, dari bahan yang tidak membahayakan kesehatan mereka. Perhatikan selalu kerapian barang-barang mereka, latihlah mereka untuk bisa merawatnya dengan sabar dan tekun.


Carikan tempat pendidikan yang menunjang mereka menuju pendidikan islami, yang bertujuan membinanya kepada ketaqwaaan, mencintai Al-Qur'an dengan keteladanan para pembina yang berakhlaqur karimah. Bimbinglah untuk mampu melaksanakan tata tertib lembaga pendidikan (Sekolah-Madrasah-Pondok)nya.


Jauhkan mereka dari tempat, teman dan benda-benda yang menyebabkan mereka berakhlaq buruk. Seperti kaset, CD, film, majalah yang tidak mengandung unsur pendidikan, bahkan merusak akhlaq mereka.


Berilah mereka rizki yang halal, dijauhkan dari harta riba, haram, maupun syubhat, serta peringatkan mereka dari perbuatan dan ahklaq yang dilarang Agama serta jelaskan keutamaan akhlaq-akhlaq karimah yang harus senantiasa mereka sandang.


g. Memberikan suri teladan yang baik bagi mereka.


Tempat Pendidikan Anak Yatim


Karena demikian mulia kedudukan mereka di kalangan umat Islam, maka syariat menganjurkan agar mereka dididik di tempat yang penuh tanggung jawab, seperti antara lain pada:


1. Rumah tangga keluarganya sendiri, famili terdekat.


2. Rumah tangga keluarganya sendiri, famili jauh.


3. Lembaga pendidikan Muslim yang baik seperti yayasan, panti asuhan Muslim dan sebagainya.


4. Tokoh yang memiliki kemampuan dan amanah.


Bila tidak mampu secara pribadi, anggota masyarakat Muslim bisa berpartisipasi menjadi donatur atau membantu yayasan panti asuhan, atau membantu mereka secara pribadi kepada keluarga anak yatim, atau juga pada sebagian kebutuhan anak yatim dengan cara yang baik. Sesungguhnya niat baik orang beriman yang bersungguh-sungguh pasti akan mendapat balasan dan pertolongan dari Allah subhanahu wata’ala. Insya Allah. (Waznin Mahfudz)


 

   Halaman Depan | Produk | Tentang Kami | Artikel | Hubungi Kami |
  Copyright © 2009 http://www.alzaelrohmah.org     Powered By Palapastudio.com